Biografi Yayasan Istana Hati
Perjalanan Sebuah Panggilan Nurani
Yayasan Istana Hati adalah sebuah lembaga sosial dan keagamaan yang lahir dari sebuah niat tulus dan kepedulian yang mendalam terhadap anak-anak yatim piatu dan terlantar. Didirikan pada tahun 2021, yayasan ini adalah wujud nyata dari perjuangan panjang seorang Mohammad Arifin, S.Ag., seorang tokoh agama yang dedikasinya telah tertanam sejak puluhan tahun yang lalu.
Fondasi Spiritual: Jejak Seorang Santri dari Madura hingga Kediri
Cikal bakal kepemimpinan dan kepedulian Mohammad Arifin, S.Ag. tidak terlepas dari latar belakang pendidikannya yang kokoh di dunia pesantren. Beliau adalah seorang putra daerah Agam, Madura, yang sejak muda telah menanamkan ilmu agama secara mendalam. Perjalanan spiritualnya dimulai dari dua pondok pesantren besar di tanah kelahirannya, Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Arrahmaniyah dan Pondok Pesantren Miftahul Mulum.
Di dua pondok ini, beliau tidak hanya belajar tentang dasar-dasar keislaman, tetapi juga menggembleng karakter dan jiwa sosialnya. Rasa ingin tahu dan dahaganya akan ilmu membawanya ke salah satu kawah candradimuka pesantren terkemuka di Indonesia, Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri. Pengalaman di Lirboyo semakin memperkaya wawasan keagamaannya dan memantapkan tekadnya untuk mengabdikan hidup demi kemaslahatan umat, terutama mereka yang membutuhkan.
Panggilan Merantau dan Perjuangan di Pulau Dewata
Pada tahun 1997, dengan bekal ilmu yang mumpuni dan hati yang penuh panggilan, Mohammad Arifin memutuskan untuk merantau ke Pulau Bali. Tujuannya bukan sekadar mencari nafkah, tetapi sebuah misi mulia: mengembangkan syiar Islam melalui jalan membina dan mendidik anak-anak yatim piatu serta anak-anak yang terlantar.
Di tanah rantau, beliau menjalani kehidupan yang penuh dengan perjuangan. Sambil berdagang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, ia tak pernah lelah meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk anak-anak di sekitarnya. Dengan kesabaran dan kasih sayang, ia secara perorangan menjadi pelindung, guru, dan figur ayah bagi mereka. Dari situlah, benih-benih kebaikan yang kelak akan menjadi Yayasan Istana Hati mulai disemai.
Terwujudnya “Istana” bagi Hati-Hati Telanjang
Setelah lebih dari dua dekade berdedikasi secara perorangan, Mohammad Arifin, S.Ag. merasa bahwa perjuangannya perlu dilembagakan agar dampaknya bisa lebih luas dan berkelanjutan. Pada tahun 2021, dengan tekad yang bulat dan didukung oleh banyak pihak yang simpati pada perjuangannya, beliau secara resmi mendirikan sebuah yayasan.
Nama “Istana Hati” dipilih bukan tanpa alasan. Nama ini memiliki makna filosofis yang sangat dalam: sebuah tempat suci dan layak di mana hati-hati anak-anak yatim dan terlantar yang mungkin pernah terluka dapat dibina, dilindungi, dan diisi dengan kasih sayang serta ilmu yang bermanfaat. Istana Hati menjadi wadah formal untuk mewujudkan mimpi lamanya: mencetak generasi penerus yang sholeh, cerdas, dan mandiri yang kelak bisa menjadi kebanggaan bagi bangsa.
Visi dan Masa Depan
Hari ini, Yayasan Istana Hati terus melanjutkan perjuangan yang dimulai oleh Mohammad Arifin, S.Ag. sejak tahun 1997. Dari seorang santri Madura yang merantau ke Bali, menjadi seorang pedagang yang peka pada penderitaan anak-anak, hingga akhirnya mendirikan sebuah yayasan, perjalanan ini adalah cerminan dari keteguhan hati dan keikhlasan dalam beramal.
Yayasan Istana Hati berkomitmen untuk terus menjadi benteng perlindungan dan pusat pembinaan bagi anak-anak yang membutuhkan, menjadikan setiap hati yang mereka sentuh benar-benar merasa memiliki sebuah “istana” yang penuh cinta dan harapan.





